oleh

Menyoal Program 100 Hari Kerja Eka-Richi, Ini Kata Para Pakar

TanahDatar, Suarapribumi.co.id — Berakhir sudah 100 hari kerja setiap kepala daerah per kabupaten/kota di Sumatera Barat (Sumbar) ini. Melirik kepada Kabupaten Tanah Datar, dengan Batusangkar Kota Budaya nan elok dan Pariangan desa terindah didunia. Apakah berhasil program 100 hari kerja pemimpin dengan slogan era baru itu? Mari kita simak dari berbagai pandangan para tokoh di Sumbar ini.

Pertama kita menyimak tanggapan dari Ketua Parodi Pusat Kajian Politik Sumatera Barat Prof Najmuddin, kepada media ini sang Prof mengatakan pada intinya program 100 hari kerja Eka Putra dan Richi Aprilian masih belum maksimal.

“Dalam penanganan Covid-19 belum maksimal, itu terbukti dari angka yang terus meningkat. Kemudian juga sama halnya dengan recovery ekonomi, saya belum melihat focus recovery dibidang apa, menurut saya setiap agenda harus ada indikator sebagai alat ukur, ini saya tidak melihat ada tolak ukurnya. Sebetulnya yang sangat kristal itu adalah pembenahan kelembagaan dan staf, dan harus merangkul semua potensi yang ada,” jelas Prof Najmuddin.

Dilain sisi, Dosen Politik Islam IAIN Batusangkar dan Direktur Lembaga Kajian Studia Politika Novi Budiman, S.IP, M.si juga memberikan pandangan terkait dengan 100 hari kerja nahkoda baru Tanah Datar ini. Menurutnya tidak ada standar keberhasilan pemerintah dalam 100 hari kerja, akan tetapi 100 hari kerja merupakan bentuk gambaran yang menentukan kemana arah wajah pemerintahan ini.

 

“100 hari pertama seharusnya seorang kepala daerah dapat menunjukan sebuah digtingsi dengan kepala daerah sebelumnya, sehingga ada sebuah kejutan yang di tunggu masyarakat, 100 hari kerja menurut saya seharusnya membentuk kepercayaan masyarakat atau public trust, sehingga memang mendapatkan dukungan dan legitimasi dari masyrakat,” jelasnya.

Lebih lanjut Novi Budiman juga menyebutkan banyak hal yang masih menjadi persoalan dalam nahkoda baru yang ditenggarai oleh Eka Putra dan Richi Aprilian, seperti Covid-19, infrastruktur, pelayanan publik, dan juga dalam sektor ekonomi.

 

“Masih menjadi PR tentunya bagi pemerintahan era baru ini, pertama kita melihat dari angka kenaikan kasus covid-19 dalam beberapa bulan ini du Tanah Datar, kemudian soal infrastruktur masih begitu banyak jalan yang rusak parah, dalam sektor ekonomi tentunya mulai dari memberdayakan potensi nagari melalui Bumnag, soalnya saya melihat Bumnag di Tanah Datar ini masih seperti kerakap tumbuh diatas batu dan terakhir masalah pelayanan publik. Itu semua akan menjadi penilaian tersendiri bagi masyrakat terhadap pemerintahan era baru ini,” tutupnya.

Tentu kita semua bisa memberikan penilaian terhadap 100 hari program kerja Eka-Richi ini, berhasil atau tidaknya, itu merupakan gambaran Tanah Datar kedepannya.

*Pewarta : Farhan Faridho

Komentar

Tinggalkan Balasan