Dokter Militer TNI Ungkap Temuan Kesehatan Jantung Prajurit dalam Forum Nasional InaPRevent 2025

Nasional685 views

 

Suarapribumi.co.id – Jakarta, 15 Mei 2025 — Sejumlah dokter militer TNI memukau publik dan kalangan medis dalam forum nasional 8th Indonesian Cardiovascular Prevention and Rehabilitation Event (InaPRevent 2025) dengan memaparkan hasil penelitian terbaru mereka tentang kondisi jantung prajurit TNI, termasuk pilot tempur dan tentara aktif. Dua karya ilmiah ini menyoroti pentingnya deteksi dini serta pemahaman mendalam terhadap kondisi kardiovaskular ekstrem yang dialami personel militer Indonesia.

*Pilot Tempur Positif Iskemia Tanpa Gejala: Ancaman Tersembunyi di Udara*

Salah satu laporan mengejutkan datang dari tim dokter militer TNI AU yang menangani seorang pilot tempur berusia 45 tahun. Dalam pemeriksaan rutin, pilot tersebut menunjukkan hasil exercise stress test (EST) yang positif untuk iskemia, meskipun tidak merasakan gejala apa pun.

Pemeriksaan lanjutan berupa angiografi dan uji fractional flow reserve (FFR) mengungkap adanya penyempitan pembuluh darah koroner hingga 50 persen.

Namun karena dinilai tidak signifikan secara fungsional, pilot tersebut tetap dinyatakan layak terbang setelah menjalani terapi. Beberapa bulan kemudian, hasil EST kembali normal.

“Kasus ini menegaskan bahwa meskipun tanpa gejala, risiko penyakit jantung tetap ada dan harus ditangani dengan pendekatan medis yang khusus untuk dunia penerbangan,” ujar W. Pamungkas, dokter TNI AU sekaligus penulis utama laporan tersebut.

Studi ini menyoroti pentingnya evaluasi aeromedikal yang mendalam terhadap awak pesawat, terutama pilot tempur yang rutin terpapar G-force tinggi dan hipoksia.

Kegagalan mendeteksi risiko ini secara tepat dapat berakibat fatal saat menjalankan misi di udara.

*Bradikardia Prajurit TNI: Gangguan Jantung atau Adaptasi Atletik?*

Di sisi lain, tim medis dari Rumah Sakit TNI AD Palangkaraya meneliti 300 tentara aktif berusia di bawah 35 tahun dan menemukan fenomena bradikardia asimptomatik atau detak jantung lambat pada 25,6 persen peserta.

Meski EKG menunjukkan irama sinus lambat, sinus arrhythmia, dan gejala lain yang biasanya mengindikasikan gangguan jantung, tidak ditemukan keluhan klinis seperti nyeri dada atau sesak napas. Rata-rata detak jantung hanya 53,8 kali per menit — angka yang lebih rendah dari populasi umum.

“Ini bukan penyakit, melainkan adaptasi fisiologis dari tubuh prajurit yang terlatih. Sama seperti atlet, jantung mereka bekerja lebih efisien,” jelas dr. Rahman Ardiansyah, peneliti utama studi tersebut.

Hasil ini merujuk pada Seattle Criteria, standar evaluasi jantung atlet yang mengklasifikasikan temuan-temuan ini sebagai adaptif, bukan patologis.

*Pentingnya Evaluasi Spesifik dalam Dunia Militer*

Kedua studi ini menyampaikan pesan penting: prajurit TNI adalah populasi khusus dengan tantangan fisiologis yang unik. Oleh karena itu, pendekatan diagnosis dan penanganannya tidak bisa disamakan dengan masyarakat umum.

Melalui karya ilmiah ini, para dokter militer membuktikan kapasitas mereka tak hanya sebagai tenaga medis, tetapi juga sebagai peneliti yang mendorong batas-batas ilmu kedokteran dalam konteks militer.

“Ini adalah kontribusi strategis bagi keselamatan prajurit dan efektivitas pertahanan negara,” ujar salah satu moderator forum InaPRevent 2025.

Dengan temuan ini, TNI diharapkan semakin tangguh, tak hanya dalam strategi tempur, tetapi juga dalam kesiapan medis dan kesehatan prajurit. (Denni)