oleh

Nasibmu Supir Travel Sumbar-Riau

Suarapribumi.co.id, Sumatera Barat —- Berdampak pada keseluruhan supir penumpang antar provinsi, itu terjadi karena penutupan setiap jalur masuk setiap provinsi. Keluhan itu di ucapkan salah satu supir travel angkutan Sumatera Barat (Sumbar) – Riau kepada media ini, Minggu (09/05/2021).

Dikatakan Rio, Supir travel jurusan sumbar-riau, bahwa dampaknya begitu kami rasakan, terlebih di bulan suci Ramadhan yang mendekati Hari Raya Idul Fitri ini. Sebagai kepala keluarga Rio merasa bersalah kepada anak istrinya, karena tidak bisa memenuhi sepenuhnya kebutuhan anak dan istri.

 

“Bulan Ramadhan yang kami nantikan, merupakan bulan panen bagi kami pekerja jasa supir angkutan orang. Namun harapan itu kian terpuruk, karena pandemi covid yang memaksa pemerintah untuk menutup setiap pintu masuk antar provinsi. Berhutang rasa tanggung jawab atas kebutuhan anak dan istri saya sekarang, tidak bisa memberikan baju lebaran tahun ini kepada mereka,” terang Rio di salah satu warung kopi di Nagari Barulak Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat.

Lebih lanjut, harapan juga di sampaikan Rio kepada pemerintah, mungkin Rio mewakili harapan setiap supir travel yang ada di Sumbar ini, Rio berharap, pemerintah memperhatikan kami yang terdampak, karena penutupan jalan antar provinsi ini. Musim panen menjadi musim pahit bagi mereka sekarang ini.

“Mungkin harapan ini mewakili setiap supir travel yang ada, dampak dari penutupan jalan Sumbar-Riau ini begitu kami rasakan, sebagai supir travel, kami juga punya tanggung jawab keluarga yang kami emban. Kepada pemerintah, kami berharap mencarikan solusi terbaik bagi kami,” jelasnya.

Ditemani kopi sakarek (secangkir kecil) keluh kesah dan curhatan yang dirasakan Rio dan bahkan seluruh supir travel di Indonesia merupakan dampak dari penutupan jalur antar provinsi ini. Tanggung jawab keluarga atas kebutuhannya, terlebih satu minggu lagi memasuki hari raya Idul Fitri.

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, sekarang mereka mencari pekerjaan, banyak dari mereka yang menjadi kuli bangunan, upah harian mengecat rumah orang, bahkan membantu petani di kebun.

Pewarta : Farhan Faridho

Komentar

Tinggalkan Balasan