Tak Sekadar Hiburan, Radio Safasindo FM Jadi Wadah Suara dan Kemandirian Perempuan

Berita47 views

Payakumbuh – Sosok Hj. Harni Pamil, Direktur sekaligus Owner PT Suara Safasindo Utama, menjadi contoh nyata bahwa belajar tidak mengenal usia. Di tengah kesibukannya memimpin media radio dan menjalankan berbagai program sosial, ia justru bersiap menyandang gelar sarjana hukum—di saat yang sama akan segera menjadi seorang nenek.

Dalam wawancara eksklusif bersama Radio Safasindo 98.2 FM, Selasa (21/4/2026), Harni menegaskan bahwa semangat untuk terus belajar adalah kunci utama dalam menghadapi perubahan zaman, terutama bagi perempuan.

“Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Selama ada kemauan, kesempatan itu selalu ada,” ujarnya.

Di balik kesibukannya sebagai pimpinan radio lokal di Payakumbuh, Harni tetap konsisten mendorong lahirnya program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui program Sakinah Mawadah Warohmah (SAMARA) yang fokus pada edukasi perempuan.

Program tersebut membahas berbagai isu mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga kewirausahaan. Tak hanya itu, SAMARA juga membuka ruang dialog bagi perempuan untuk menyampaikan aspirasi dan pengalaman mereka di ruang publik.

Melalui radio yang dipimpinnya, Harni juga aktif mendorong pengembangan UMKM perempuan. Promosi usaha melalui siaran radio dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk membantu perempuan meraih kemandirian ekonomi.

“Perempuan harus punya ruang untuk berkembang, baik dalam pendidikan maupun ekonomi. Media bisa menjadi jembatan untuk itu,” tambahnya.

Selain itu, Radio Safasindo 98.2 FM juga tetap menjaga keseimbangan antara edukasi modern dan nilai-nilai budaya lokal. Menurut Harni, perempuan tidak hanya dituntut cerdas, tetapi juga tetap berakar pada budaya.

Kiprah Hj. Harni Pamil ini sejalan dengan semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini, yang memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan.

Namun lebih dari itu, ia menghadirkan contoh konkret bahwa perjuangan tersebut bisa dimulai dari diri sendiri.

Dengan semangat belajar sepanjang hayat dan komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat, perempuan tidak terbatas oleh usia maupun posisi.

Kisahnya menjadi inspirasi bahwa di tengah peran sebagai ibu, pemimpin, hingga calon nenek, perempuan tetap bisa berkembang, berdaya, dan memberi dampak luas bagi lingkungan sekitarnya. (Harika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *