Praktik percaloan di Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) SIM Polres Subang kembali dikeluhkan oleh masyarakat.
Banyak pemohon SIM merasa proses ujian resmi sengaja dipersulit untuk menggiring mereka menggunakan jasa calo dengan tarif yang membengkak drastis.
Sejumlah warga mengaku berulang kali gagal dalam ujian teori maupun praktik dengan alasan yang tidak transparan. Frustrasi karena prosedur yang rumit, banyak pemohon akhirnya terpaksa memilih jalur pintas melalui calo.
Ketika berurusan dengan calo, ternyata menimbulkan masalah baru. Warga menyoroti diabaikannya tahapan krusial dalam pembuatan SIM.
Melalui jasa calo, pemohon sama sekali tidak menjalani tes kesehatan dan psikotes.
Padahal, kedua tes ini sangat penting untuk memastikan keselamatan di jalan raya.
Tes kesehatan berfungsi mengukur fisik pengemudi, sementara psikotes menguji stabilitas emosi dan mental pengendara saat menghadapi situasi darurat. Bebasnya pemohon dari tes ini dinilai mencederai aspek keselamatan berkendara.
Adapun tarif calo di Satpas SIM Polres Subang ini menembus Rp650.000 hingga Rp700.000. Harga ini melonjak hingga hampir tujuh kali lipat dari ketentuan resmi.
Angka tersebut sangat kontras dengan tarif murni Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2020.
Padahal, jika merujuk pada regulasi resmi, biaya murni PNBP pembuatan SIM C hanya Rp100.000 dan SIM A sebesar Rp120.000.
Bahkan jika ditambah akumulasi biaya tes kesehatan mandiri dan psikotes yang berkisar Rp100.000, total biaya resmi tidak akan menyentuh angka Rp250.000.
Memang, sangat ironis dengan praktek culas di Satpas SiM Polres Subang ini. Dengan kenyataan tersebut dan jika terjadi setiap hari ada pemohon lain yang melakukan hal serupa, maka potensi uang haram yang masuk bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Ketika praktek percaloan dan pungli yang terjadi di SATPAS SIM Polres Subang ini dikonfirmasi ke Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Barat Kombes Pol Raydian Kokrosono tidak ada respon yang diberikan. Pesan WhatsApp yang disampaikan, hingga tulisan ini ditayangkan, tidak ada jawaban yang diberikan.
(MORIZA)




