Suarapribumi co id, Tanah Datar – Pameran foto jurnalistik bertajuk Prahara Pulau Emas resmi digelar di halaman Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Senin (27/7/2026). Lebih dari sekadar menampilkan karya fotografi, pameran ini menjadi ruang edukasi yang mengajak masyarakat mengenang dampak bencana sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan.
Pameran yang berlangsung hingga 30 Juli 2026 itu dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly. Pembukaan ditandai dengan penandatanganan potter sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan.
Dalam sambutannya, Ahmad Fadly menilai foto jurnalistik memiliki kekuatan besar dalam menyampaikan pesan kemanusiaan. Menurutnya, setiap foto yang dipamerkan tidak hanya merekam sebuah peristiwa, tetapi juga menjadi pengingat agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
“Foto-foto ini menyajikan fakta dan realitas yang terjadi di lapangan. Melalui pameran ini, masyarakat dapat belajar sekaligus mengambil hikmah dari setiap peristiwa bencana,” ujarnya.
Koordinator Wilayah Pewarta Foto Indonesia (PFI) Sumatera, Hendra Syamhari, menjelaskan seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil dokumentasi pewarta foto saat meliput berbagai bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ia menegaskan, setiap foto yang ditampilkan mengedepankan nilai jurnalistik dengan menyampaikan informasi berdasarkan fakta di lapangan.
“Pewarta foto memiliki tanggung jawab menghadirkan informasi visual yang akurat. Di tengah situasi bencana, foto menjadi saksi sejarah sekaligus media edukasi bagi masyarakat,” katanya.
Ketua Pelaksana PFI Padang, Muhammad Arif Pribadi, menyampaikan pameran tersebut terlaksana berkat kolaborasi antara PFI dengan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar serta dukungan dari PFI Pusat, Yayasan Mata Waktu, dan PT PLN (Persero).
Selain pameran, kegiatan juga dirangkai dengan roadshow peluncuran buku foto jurnalistik Prahara Pulau Emas. Sebelumnya buku tersebut telah diperkenalkan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan setelah Tanah Datar akan melanjutkan perjalanan ke Aceh serta Medan, Sumatera Utara.
Melalui pameran dan peluncuran buku ini, PFI berharap dokumentasi visual tentang berbagai bencana tidak hanya menjadi arsip sejarah, tetapi juga mampu membangun kepedulian publik terhadap pentingnya mitigasi, solidaritas, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. (Harika)









