oleh

Budidaya Di Kampung Jamur Payolinyam Hidupi 90 KK Lebih, Masyarakat Ingin Tingkatkan Kuota Produksi

Payakumbuh, SUARAPRIBUMI — Ada sebuah kampung di Kota Payakumbuh yang masyarakatnya, umumnya ibu-ibu yang melakukan giat ekonomi kreatif, khususnya dibidang pertanian. Namanya Kampung Jamur di Kelurahan Tigo Koto Di Baruah lingkungan Payolinyam, ada lebih dari 90 KK yang beraktivitas setiap hari memproduksi jamur tiram putih.

Berbagai produk olahan jamur diproduksi disini, mulai dari rendang jamur tiram, nugget jamur, krispi jamur, bandrek jamur, galamai jamur, hingga coklat jamur.

Noviyantini, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat mengatakan ada lebih dari 100 warga yang melakukan budidaya jamur tiram, lalu diolah di Unit Pelayanan Pengolahan Pemasaran Hasil Pertanian (P3HP) Togak Basamo di dampingi oleh Dinas Pertanian Kota Payakumbuh.

Awalnya KWT Rosella melakukan budidaya jamur tiram pada tahun 2011, saat itu diketuai oleh Noviyantini, karena semakin banyak masyarakat yang membudidayakan jamur tiram di Payolinyam, akhirnya KWT dipecah dan 5 bulan lalu dibentuk KWT Kelok Supra.

“Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dengan tanaman jamur. Modal untuk pembuatan 1 baglog seharga Rp.1300, dan setelah itu menunggu selama 40 hari agar bisa panen pertama, selanjutnya menunggu kembali selama 15 hari paling lama untuk panen lanjutan, 1 baglog bisa menghasilkan panen 800 gram sampai 1 kilogram tergantung berat media,” ujar Noviyantini.

Ditambahkan, usaha budidaya jamur tiram ini menggunakan limbah serbuk gergaji yang dapat diolah menjadi media tumbuh jamur (baglog) sehingga pengelolaan sampah menjadi modal utama dalam pemberdayaan jamur tiram ini.

Banyak masyarakat luar daerah yang datang ke Payolinyam untuk membeli jamur. Permintaan jamur tiram segar melebihi stok jamur yang masuk, hingga akhirnya dinas setempat hanya bisa melakukan pembinaan karena keterbatasan anggaran.

“Pendapatan dengan jamur sangat menjanjikan, rata-rata masyarakat yang menjadi petani jamur tiram mendapatkan penghasilan bersih 1 juta rupiah perbulan,” ujar Eni Kurniati, Penyuluh Pertanian dan Sarman Staff Dinas Pertanian Bidang Tanaman Pangan Holtikultura Pengelola Terminal Agribisnis.

Ditambahkan, “Keterbatasan jumlah petani jamur dan pemibibitan membuat kita terkendala stok. Kemampuan produksi juga minim akibat anggaran yang kurang, selain itu petani budidaya jamur juga butuh showcase untuk menyimpan jamur yang sudah dipanen untuk bisa dijual nanti saat pemesanan dalam jumlah besar,” ujar Sarman.

Menurut warga Payolinyam, dengan menjual jamur tiram hasil budidaya tersebut, seharinya mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar daripada menjadi petani di sawah, khusus ibu-ibu yang menjalani usaha budidaya jamur tiram di rumah-rumahnya merasakan dampak besar dari penjualan produk holtikultura ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan