BUKITTINGGI, Suarapribumi.co.id — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengambil langkah taktis dalam membentengi generasi muda dari ketergantungan gawai (gadget) sekaligus memperluas peta jalan pariwisata daerah.
Langkah ini diwujudkan melalui pembukaan pergelaran Alek Permainan Anak Nagari se-Kota Bukittinggi Tahun 2026 yang berpusat di Lapangan Kantin Wirabraja, Kota Bukittinggi, Sabtu (16/5/2026).
Event yang digagas Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi ini sengaja dirancang untuk mengalihkan perhatian generasi Z dan Alpha dari layar digital ke interaksi sosial nyata berbasis kearifan lokal.
Benteng Budaya di Era Digital
Anggota DPRD Sumatera Barat, Nurna Eva Karmila, yang mendukung penuh acara ini melalui dana pokok-pokok pikiran (pokir)-nya, menyoroti fenomena mulai menjauhnya generasi muda dari sejarah dan tradisi akibat gempuran modernisasi.
Menurutnya, ruang pembinaan seperti Alek Permainan Anak Nagari ini adalah jawaban konkret untuk menyelamatkan masa depan pemuda dari dampak negatif dunia digital.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum positif bagi generasi muda, khususnya di Kota Bukittinggi, agar kembali mengenal sejarah, adat istiadat, dan budaya Minangkabau,” ujar Nurna Eva. Ia menegaskan, penguatan budaya tradisional secara masif dapat menjadi tameng efektif untuk menjauhkan pemuda dari candu gawai dan permainan digital.
Gubernur Sumatera Barat yang hadir membuka acara juga mengamini hal tersebut. Beliau menekankan bahwa menghidupkan kembali permainan anak nagari bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya menanamkan kembali karakter gotong royong dan kebersamaan yang mulai terkikis di era individualisme digital.
Inovasi Pariwisata: Menuju Bukittinggi Kota Health Tourism
Selain fungsi proteksi budaya bagi generasi muda, perhelatan ini juga menjadi pemantik bagi Pemprov Sumbar untuk melontarkan cetak biru baru bagi pariwisata Kota Bukittinggi.
Gubernur menilai, atraksi budaya seperti pawai, lomba permainan tradisional, kesenian, hingga lomba panitahan (seni bertutur adat) harus menjadi magnet baru yang memperlama masa tinggal (length of stay) wisatawan.
Namun, tidak berhenti di sektor budaya, Gubernur melemparkan gagasan strategis yang lebih luas untuk mendongkrak ekosistem pariwisata Bukittinggi secara paripurna, yaitu dengan meluncurkan wacana Rumah Sakit Wisata (Health Tourism).
Diversifikasi Objek: Wisatawan tidak hanya disuguhi keindahan alam dan atraksi budaya, tetapi juga layanan kesehatan premium.
Transformasi Layanan: Mendorong rumah sakit di Bukittinggi untuk bertransformasi memberikan pelayanan kesehatan berstandar wisata.
Kenyamanan Kota: Gubernur meminta peran aktif niniak mamak (tokoh adat) dan masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keamanan kota demi mendukung ekosistem baru ini.
“Siapa lagi yang akan mengangkat kalau bukan kita? Melalui Dinas Kebudayaan, kita harus terus menjaga nilai-nilai luhur ini,” tegas Gubernur.
Dengan kolaborasi multi-sektor ini, Alek Permainan Anak Nagari 2026 diharapkan tidak hanya sukses menjadi penawar racun kecanduan gawai pada remaja, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi Bukittinggi untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya dan kesehatan yang disegani di tingkat nasional. (Harika)
*
BUKITTINGGI — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengambil langkah taktis dalam membentengi generasi muda dari ketergantungan gawai (gadget) sekaligus memperluas peta jalan pariwisata daerah.
Langkah ini diwujudkan melalui pembukaan pergelaran Alek Permainan Anak Nagari se-Kota Bukittinggi Tahun 2026 yang berpusat di Lapangan Kantin Wirabraja, Kota Bukittinggi, Sabtu (16/5/2026).
Event yang digagas Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi ini sengaja dirancang untuk mengalihkan perhatian generasi Z dan Alpha dari layar digital ke interaksi sosial nyata berbasis kearifan lokal.
Benteng Budaya di Era Digital
Anggota DPRD Sumatera Barat, Nurna Eva Karmila, yang mendukung penuh acara ini melalui dana pokok-pokok pikiran (pokir)-nya, menyoroti fenomena mulai menjauhnya generasi muda dari sejarah dan tradisi akibat gempuran modernisasi.
Menurutnya, ruang pembinaan seperti Alek Permainan Anak Nagari ini adalah jawaban konkret untuk menyelamatkan masa depan pemuda dari dampak negatif dunia digital.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum positif bagi generasi muda, khususnya di Kota Bukittinggi, agar kembali mengenal sejarah, adat istiadat, dan budaya Minangkabau,” ujar Nurna Eva. Ia menegaskan, penguatan budaya tradisional secara masif dapat menjadi tameng efektif untuk menjauhkan pemuda dari candu gawai dan permainan digital.
Gubernur Sumatera Barat yang hadir membuka acara juga mengamini hal tersebut. Beliau menekankan bahwa menghidupkan kembali permainan anak nagari bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya menanamkan kembali karakter gotong royong dan kebersamaan yang mulai terkikis di era individualisme digital.
Inovasi Pariwisata: Menuju Bukittinggi Kota Health Tourism
Selain fungsi proteksi budaya bagi generasi muda, perhelatan ini juga menjadi pemantik bagi Pemprov Sumbar untuk melontarkan cetak biru baru bagi pariwisata Kota Bukittinggi.
Gubernur menilai, atraksi budaya seperti pawai, lomba permainan tradisional, kesenian, hingga lomba panitahan (seni bertutur adat) harus menjadi magnet baru yang memperlama masa tinggal (length of stay) wisatawan.
Namun, tidak berhenti di sektor budaya, Gubernur melemparkan gagasan strategis yang lebih luas untuk mendongkrak ekosistem pariwisata Bukittinggi secara paripurna, yaitu dengan meluncurkan wacana Rumah Sakit Wisata (Health Tourism).
Diversifikasi Objek: Wisatawan tidak hanya disuguhi keindahan alam dan atraksi budaya, tetapi juga layanan kesehatan premium.
Transformasi Layanan: Mendorong rumah sakit di Bukittinggi untuk bertransformasi memberikan pelayanan kesehatan berstandar wisata.
Kenyamanan Kota: Gubernur meminta peran aktif niniak mamak (tokoh adat) dan masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keamanan kota demi mendukung ekosistem baru ini.
“Siapa lagi yang akan mengangkat kalau bukan kita? Melalui Dinas Kebudayaan, kita harus terus menjaga nilai-nilai luhur ini,” tegas Gubernur.
Dengan kolaborasi multi-sektor ini, Alek Permainan Anak Nagari 2026 diharapkan tidak hanya sukses menjadi penawar racun kecanduan gawai pada remaja, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi Bukittinggi untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya dan kesehatan yang disegani di tingkat nasional. (Harika)





