Strategi Kampanye Primordial Bisa Merugikan

Opini, Polhukam335 views

Opini

Sejumlah Calon berebut suara pemilih untuk pemilihan Kepala Daerah di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Lima Puluh Kota, kampung halaman saya. Berbagai cara dilakukan untuk menarik simpati masyarakat, salah satunya dengan mengembar gemborkan daerah asalnya atau disebut juga politik identitas strategi kampanye mengedepankan primordialisme.

Meski realitas ini kadang bisa terjadi, memang melihat histori zona pemenangan khususnya di Kabupaten Lima Puluh Kota calon bupati atau wakil bupati menang di daerah asalnya meskipun skopnya kabupaten. Menurut saya untuk Pemilu skala Nasional bisa ampuh dan efektif karena pergesekan dan perbedaan perspektif antar etnis lebih jelas dan keras.

Sekelas kabupaten apalagi dengan narasi yang terlalu berlebihan tentu saja akan merugikan calon tersebut, sebut saja calon X, mengclaim ia berasal dari Harau, maka dalam narasi kampanye nya berkali-kali menyuarakan orang harau mesti pilih harau. Lalu orang Halaban bagaimana?

Sudah barang tentu bagi masyarakat yang cerdas akan menimbulkan antipati dan sentimen kedaerahaan yang kuat, jika orang harau pilih orang harau tentu logikanya orang halaban tidak pilih orang harau. Betapa ruginya calon X itu jika hanya orang harau saja yang memilihnya, itupun kalau orang Harau sendiri sudah pasti 100 persen memilih, bagaimana jika seandainya masyarakat mempertanyakan begini, “Orang Harau kok selama ini tak nampak, kemana aja, yang bener aja orang Harau?”

Begitu pula dengan calon Y yang mengklaim orang Mudiak, meskipun tinggal lama di rantau dan tak dikenal urang sakampuang.

Belum lagi berbicara setelah terpilih apakah ada jaminan jika putra daerahnya terpilih akan menguntungkan daerahnya itu, tentu tidak, bahkan bisa sebaliknya.

Kita bisa berkaca pada Kepala Daerah sebelumnya, justru daerah asalnya tempat suara dominan yang mendukung tak mendapatkan kue pembangunan, jalan-jalan tetap saja buruk, program-program pemerintah yang berorientasi memakmurkan masyarakat itu tidak ada.

Ada pula calon Z dan P yang berebut zona yang sama karena berasal dari daerah yang sama, timbul saling klaim dukungan, pertama Z didukung tokoh sentral daerah dengan perantaunya itu sebutlah Pangkalan misalnya, kemudian calon P juga ikut berjibaku untuk datang ke tokoh itu dan masyarakat perantau Pangkalan.

Padahal yang paling penting dinilai oleh masyarakat adalah isi kepala daerah calon tersebut, akal pikirannya, gagasannya untuk memajukan Lima Puluh Kota, lalu yang terpenting adalah komitmennya karena adapun calon yang pintar dan memiliki ide yang cemerlang namun tak punya integritas dan kebernian untuk merealisasikannya sama saja bohong.

Selanjutnya adalah kemampuannya berkomunikasi dengan masyarakat bawah hingga pusat, tidak ekslusif kebawah namun berempati terhadap penderitaan masyarakat, kemudian memiliki kemampuan diplomasi yang dengan pemerintah pusat, perantau, ataupun investor yang akan menjadi resources baginya saat terpilih.

Penulis: Syafri Ario

Tinggalkan Balasan