SD Negeri 31 Payakumbuh Bertransformasi ke Layar Digital

Payakumbuh71 views

Payakumbuh, Suarapribumi.co.id– Dunia pendidikan senantiasa berkembang mengikuti arus zaman. Seiring perubahan itu, peran guru sebagai garda terdepan turut mengalami pergeseran besar—bermula dari era kapur tulis hingga kini memasuki masa layar digital.

Hal ini sejalan dengan harapan Kepala dinas pendidikan kota Payakumbuh, Nalfira yang menyatakan dukungan kegiatan pendampingan pelaksanaan program digitalisasi sekolah di kota Payakumbuh.

SD Negeri 31 Payakumbuh kini menerapkan transformasi ini tidak hanya menyentuh media pembelajaran, tetapi juga cara berpikir, pola komunikasi, serta pendekatan dalam membentuk karakter peserta didik.

Guru SDN 31 Payakumbuh, Sri Susanti Mirza, mengatakan di masa silam, guru dikenal sebagai figur berwibawa yang dihormati sepenuh hati. Papan tulis dan kapur menjadi perangkat utama dalam menyampaikan ilmu.

Proses belajar banyak diwarnai metode ceramah, hafalan, dan latihan tertulis. Murid duduk tertib, menyimak dengan patuh, serta menempatkan guru sebagai sumber pengetahuan utama. Nilai disiplin dan sopan santun ditanamkan kuat dalam keseharian di sekolah.

“Dari didikan mereka tumbuh generasi yang sederhana, tangguh, serta menjunjung tinggi rasa hormat kepada guru. Kini hadir generasi pendidik baru yang kerap disebut Guru Gen Z. Ruang kelas tidak lagi sebatas papan tulis, melainkan dilengkapi proyektor, laptop, dan gawai. Pembelajaran berlangsung melalui video, kuis daring, presentasi interaktif, hingga diskusi kolaboratif,” ujarnya, 1 Maret 2026.

Guru tak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, melainkan berperan sebagai fasilitator membimbing murid menggali pengetahuan dari beragam sumber.

Guru Gen Z dituntut untuk kreatif, adaptif, dan komunikatif. Mereka harus mampu menjembatani kemajuan teknologi dengan nilai-nilai pendidikan. Peserta didik diajak berpikir kritis, berani mengemukakan pendapat, serta saling menghargai dalam diskusi.

Relasi antara guru dan murid pun terasa lebih dekat dan humanis. Perbedaan antara guru zaman dulu dan guru Gen Z bukanlah alasan untuk dipertentangkan.

Keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Guru terdahulu kuat dalam pembentukan karakter dan kedisiplinan, sementara guru masa kini unggul dalam inovasi serta pemanfaatan teknologi.

Ketika kedua kekuatan ini dipadukan, pendidikan akan menjadi lebih seimbang—teknologi berjalan seiring nilai moral, kreativitas berpadu dengan keteladanan, dan kecanggihan tetap berpijak pada kemanusiaan.

Tantangan yang dihadapi guru pun berubah seiring waktu. Dahulu, keterbatasan fasilitas, minimnya buku, dan ruang kelas sederhana menjadi hambatan tersendiri.

Namun dari keterbatasan itu lahir kreativitas yang tulus—selembar papan tulis mampu membuka cakrawala, satu buku menjadi sumber beragam pengetahuan.

Sebaliknya, guru Gen Z menghadapi tantangan di tengah derasnya arus informasi. Teknologi menghadirkan kemudahan sekaligus risiko.

Informasi yang melimpah mempercepat proses belajar, tetapi juga membuka peluang distraksi.

Guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, melainkan juga membimbing murid agar bijak menggunakan teknologi, mampu menyaring informasi, serta membangun karakter di era digital.

Peran guru kini meluas, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing moral, konselor, dan teladan di dunia maya.

Mereka perlu menanamkan etika digital, sopan santun dalam komunikasi, serta tanggung jawab dalam bermedia sosial. Inilah wajah baru pendidikan pada era Gen Z.

Di tengah segala perubahan, nilai luhur profesi guru tidak boleh luntur. Kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian tetap menjadi inti pengabdian seorang pendidik.

Secanggih apa pun teknologi, sentuhan manusiawi seorang guru tak tergantikan—saat mendengarkan keluh kesah murid, memberi semangat, dan menumbuhkan harapan.

Jika dahulu guru mengajar dengan suara lantang di depan kelas, kini sebagian mengajar melalui layar dan jaringan internet. Namun hakikatnya tetap sama: keduanya menyalakan cahaya ilmu dalam hati peserta didik.

Yang satu menorehkan jejak dengan kapur, yang lain dengan sentuhan digital. Masa depan pendidikan Indonesia bergantung pada kemampuan guru memadukan nilai lama dengan pendekatan baru.

(Syafri Ario)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *