BUKITTINGGI – Galanggang Bukit Ambacang bukan sekadar hamparan rumput bagi masyarakat Bukittinggi dan Agam; ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah dan harga diri. Pada Minggu (26/4/2026) mendatang, gelanggang legendaris ini akan kembali berdenyut melalui perhelatan Pacu Kuda Wisata Derby 2026, sebuah ajang yang menjadi pembuktian bahwa tradisi luhur tetap tegak berdiri di tengah gempuran modernisasi.
Bagi masyarakat Minangkabau, pacuan kuda adalah urat nadi kebersamaan. Perhelatan yang dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WIB ini tidak hanya menonjolkan persaingan sengit antar-kuda terbaik, tetapi juga menjadi panggung pelestarian budaya yang menyatukan ribuan pasang mata dalam satu semangat sportivitas yang tinggi.
“Pacu Kuda Wisata Derby ini adalah cara kita menjaga marwah. Ini bukan sekadar olahraga, melainkan warisan turun-temurun yang memperkuat identitas kita sebagai orang Minang,” ujar pihak panitia dalam persiapannya.
Event ini dirancang untuk membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat akan kemeriahan “aleik nagari”. Di sinilah batasan administratif antara Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam seolah melebur dalam sorak-sorai penonton yang tumpah ruah di tribun Bukit Ambacang.
Selain sebagai hiburan rakyat, ajang ini menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar mengenal lebih dekat filosofi ketangkasan dan keberanian yang disimbolkan lewat pacuan kuda. Dengan kemasan wisata yang apik, tradisi ini diharapkan tidak hanya “jago kandang”, tetapi mampu memikat wisatawan nasional dan mancanegara untuk melihat eksotika budaya lokal secara langsung.
Panitia mengimbau masyarakat untuk hadir lebih awal guna merasakan atmosfer sakral pembukaan acara hingga derap langkah kuda yang memacu adrenalin. Kehadiran setiap pengunjung bukan sekadar memenuhi kursi penonton, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap kelangsungan budaya yang telah menjadi identitas daerah sejak berabad-abad silam. (Harika)








