TANAH DATAR Suarapribumi.co.id — Kabupaten Tanah Datar bersiap menjadi sorotan melalui industri perfilman nasional. Daerah yang dikenal kaya akan adat dan budaya Minangkabau ini bakal menjadi salah satu lokasi syuting film Dompet Ayah, Sepatu Ibu, produksi Starvision yang diadaptasi dari novel mega-best-seller karya J.S. Khairen.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama sutradara Naya Anindita dan tim produksi Starvision di Gedung Indo Jolito, Batusangkar, Senin (6/10/2026) malam.
Kehadiran tim produksi tidak sekadar untuk mencari lokasi pengambilan gambar. Proyek ini juga membuka peluang bagi Tanah Datar untuk memperkenalkan kekayaan budaya, pariwisata, serta menggerakkan perekonomian masyarakat melalui industri kreatif.
Sutradara Naya Anindita mengungkapkan, kekuatan budaya yang masih terjaga di Tanah Datar menjadi salah satu alasan daerah tersebut dinilai cocok untuk mendukung kebutuhan cerita film.
Menurutnya, Dompet Ayah, Sepatu Ibu bukan sekadar kisah tentang kehidupan keluarga, melainkan potret perjuangan orang tua dalam menghadapi keterbatasan ekonomi demi memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Cerita film ini diadaptasi dari novel karya J.S. Khairen yang menarik perhatian pembaca sejak viral pada 2024. Buku tersebut berhasil mencapai cetakan keenam dalam waktu kurang dari setahun setelah diterbitkan.
Kisahnya berangkat dari pengalaman keluarga penulis yang berjuang memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Sang ibu, Zaina, merupakan anak keenam dari 11 bersaudara. Walaupun hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, ia berhasil melanjutkan pendidikan tinggi, menjadi guru, sekaligus membantu menyekolahkan adik-adiknya.
Perjuangan serupa juga dijalani sang ayah, Asrul atau Khairul Jasmi. Berasal dari keluarga kurang mampu, ia pernah bekerja sebagai loper koran dan jurnalis lepas demi membiayai kuliahnya.
Bagi Naya, kisah tersebut tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, meskipun latar ceritanya berada pada era 1980-an hingga 2025.
“Walaupun ceritanya periodik tahun 80-an, dari tahun 80 sampai 2025 akar permasalahannya masih sama. Kita butuh figur sesimpel dari tidak punya apa-apa, dia bisa menyekolahkan adik-adiknya dan menaikkan derajat keluarganya,” ujar Naya.
Film ini juga menjadi bentuk penghormatan seorang anak kepada kedua orang tuanya yang memasuki masa pensiun. Melalui cerita perjuangan, cinta, dan pengorbanan, penonton diajak melihat bagaimana dua orang dari keluarga miskin membangun kehidupan bersama hingga mampu mengantarkan anaknya menempuh pendidikan di Universitas Indonesia.
Di balik proses kreatif tersebut, keterlibatan Tanah Datar diharapkan membawa manfaat nyata bagi masyarakat setempat. Tim produksi diperkirakan melibatkan sekitar 160 kru, sehingga kebutuhan selama proses syuting berpotensi menggerakkan berbagai sektor usaha lokal.
Pelaku UMKM, pemilik homestay dan penginapan, pengrajin, hingga seniman tradisional berpeluang ikut mengambil bagian. Kesenian randai, tari-tarian, serta musik saluang juga direncanakan menjadi bagian dari unsur budaya yang ditampilkan dalam film.
“Kami akan melibatkan seniman randai, tari-tarian, musik saluang dan potensi lokal lainnya untuk masuk ke dalam film ini. Harapannya, sekaligus memperkenalkan Kabupaten Tanah Datar,” kata Naya.
Rencana tersebut mendapat sambutan positif dari Bupati Tanah Datar Eka Putra. Ia menyampaikan apresiasi kepada Starvision dan seluruh tim produksi karena telah mempertimbangkan Tanah Datar sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar.
“Naik bendi ke Pagaruyung, singgah sebentar membeli lemang. Selamat datang kami sambut dengan agung, semoga kerja sama membawa Tanah Datar semakin gemilang,” ucap Eka melalui pantun selamat datang.
Eka menegaskan, pemerintah daerah siap mendukung kelancaran produksi sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Ia juga meminta organisasi perangkat daerah terkait berkoordinasi agar proses syuting dapat berjalan baik.
Baginya, kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk membuka ruang keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, agar manfaatnya tidak berhenti pada proses pembuatan film semata.
“Pemkab Tanah Datar sangat bangga dan akan memberikan dukungan penuh. Apalagi kalau masyarakat lokal dilibatkan, anak-anak muda Tanah Datar, UMKM, homestay, penginapan, pengrajin, semuanya akan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Eka berharap kehadiran produksi Dompet Ayah, Sepatu Ibu dapat menjadi pintu masuk bagi Tanah Datar untuk semakin dikenal di tingkat nasional, bahkan mancanegara.
Dengan keterlibatan seniman dan pelaku usaha lokal, proyek ini diharapkan tidak hanya menghadirkan cerita yang menyentuh tentang perjuangan keluarga, tetapi juga membawa kekayaan budaya Minangkabau lebih dekat kepada penonton luas.
Bagi Tanah Datar, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa warisan budaya, keindahan daerah, dan kreativitas masyarakat memiliki tempat penting dalam industri perfilman Indonesia.
( Harika )




