oleh

Pemko Payakumbuh Matangkan Persiapan Menghadapi MTQ Provinsi Sumbar

Payakumbuh, SUARAPRIBUMI — Kabag Kesra Ul Fachri didampingi Kasubag Keagamaan Efrizal blak-blakan mengeluarkan sebuah pernyataan dalam menghadapi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Sumbar.

“Kito ndak nio bagaya jo baju basolang,” ujarnya dengan logat ala masyarakat Payakumbuh.

Pernyataan tersebut mengandung arti dimana dirinya merasa Khafilah yang mewakili Kota Payakumbuh untuk kedepannya harus murni dari putera daerah setempat.

“Dikarenakan apabila khafilah hanya dituntut untuk memenangkan kejuaraan alias prestise tanpa melihat sisi positif dari pertandingan tersebut, maka ditakutkan akan mematikan pembinaan, karena setiap Kabupaten/Kota berpacu dengan bermacam cara, berujung sampai-sampai memakai pemain naturalisasi.

“Kita ingin untuk lebih kepada pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk mencapai prestasi, tantusaja keinginan kita ada. Meskipun Khafilah tahun sekarang tidak semuanya asli Putera Daerah, namun khafilah tersebut merupakan hasil dari pembinaan dan seleksi dari LPTQ Kota Payakumbuh.

Disebutka ada sebanyak 66 orang khafilah, dan jika ditambah pelatih serta official maka rombongan dari Pemko Payakumbuh ke Solok berjumlah menjadi 96 orang.

Disisi lain, Pemko Payakumbuh sudah memulai pembinaan agar khafilah yang mengikuti lomba MTQ tingkat daerah, harus dari Putera Aslinya.

“Khusus untuk di tingkat kota kemaren, kita mengandalkan Putra Daerah, insyaallah untuk kedepannya di tingkat provinsiopun begitu,” tuturnya.

Pemenang MTQ tingkat kota kemarin, tidak secara otomatis dibawa ke Provinsi, melainkan hasil seleksi dari LPTQ Kota Payakumbuh.
Seleksi tersebut dilakukan terhadap aset LPTQ dan pemenang MTQ tingkat Kota Payakumbuh.

“Maksud dari aset disini adalah juara MTQ pada periode sebelumnya,” jelasnya.

Kabag Kesra juga mengatakan didalam MTQ, apapun hasilnya, diharapkan sekali outputnya menjurus kepada peningkatan pembinaan, walaupun tidak semerta-merta bisa menang, namun setidaknya dapat menggugah kepedulian seluruh pihak untuk menghidupkan lembaga pendidikan alqur’an.

“Kita sudah punya potensi, tinggal bagaimana mengelolanya. Apalagi dengan dilakukan pembinaan berjenjang, saat ini kita punya Pondok tingkat kecamatan, kalau sudah ada Masjid Agung, maka akan ada pembinaan Pondok tingkat Kota,” tandasnya.

Disebutkan juga MTQ ini, Pemko Payakumbuh menginginkan tidak hanya sekedar Prestise, namun menumbuhkan semangat untuk melakukan pembinaan, ada kecintaan masyarakat kepada Alqur’an.

“Belajar Al-Qur’an, artinya memahami, membaca, mempelajari, serta memperindah bacaan, sehingga dengan adanya semangat itu, akan menyuburkan lembaga pendidikan alqur’an yang ada di masyarakat seperti TPQ, MDTA, dan Pondok Al-Qur’an di Kecamatan,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan