oleh

SMPN 1 Undang Walimurid Demi Optimalnya PBM

Payakumbuh, SUARAPRIBUMI — Demi optimalisasi penyelenggaraan proses belajar mengajar (PBM) di SMPN 1 Payakumbuh Ketua Komite Eviandi Ibrahim mengundang walimurid untuk berembuk guna mencari mufakat dan menyatukan persepsi guna mensukseskan hal itu.

Rapat antara pengurus Komite dengan walimurid kelas VII, Kamis (17/10/2019) dilaksanakan di aula serbaguna dan Kepala SMPN 1 Payakumbuh, Defi Marlitra tampak ikut hadir saat pembukaan.

Membuka rapat komite tersebut, Defi Marlitra dalam sambutan singkatnya menyampaikan terima kasih kepada walimurid kelas VII yang telah memenuhi undangan rapat. Dirinya mengajak walimurid melalui komite untuk bersama – sama mensukseskan PBM di SMPN 1 Payakumbuh.

Usai menyampaikan sambutan singkatnya, Defi Marlitra pun mohon pamit karena ada rapat dengan kepala dinas pendidikan di Gedung Bukik Sibaluik. Pertemuan siang itu dilanjutkan Ketua Komite Eviandi Ibrahim.
Diawal sambutannya, Eviandi Ibrahim yang akrab disapa Andi melontarkan pertanyaan kepada walimurid siswa kelas VII.

“Sekarang anak dan walimurid audah tergabung sebagai keluarga besar SMPN 1 Payakumbuh. Untuk suksesnya PBM anak kita, tentunya tak terlepas dari bantua walimurid sebagaimana diatur pada PP Nomor 75 tahun 2017. SMPN 1 Payakumbuh bukan saja Nomor 1 dari Nomor urut, tapi juga Nomor 1 dalam prestasi. Agar tidak terbalik, apakah bapak dan ibu bersedia mendukung sekolah melalui komite demi kelancaran PBM tersebut ?”, tanya Andi.

“Bersedia,”jawab kompak ratusan walimurid siswa kelas VII.

“Terima kasih,”tanggap Andi.

Demi suksesnya PBM tentu pihak sekolah tak bisa menghandalkan dana BOS semata. Tapi butuh dukungan walimurid. Jangan salah paham dulu. Kami tidak akan melakukan pungli terhadap bapak dan ibu. Tapi jika walinurid suka dan rela berinfaq kami siap menampungnya. Kami namakan kegiatan ini dengan sumbangan pendidikan dari walinurid untuk kelancaran PBM.

Dari pantauan kami di lapangan walimurid tak segan membayar 800-an ribu untuk ngeleskan anak. Dan kami tidak yakin jika walimurid tak mau menyumbang untuk kepentingan PBM anaknya. Di SMPN 1 Payakumbuh kaya ekskul, baik akademik, fisik, seni, dan keagamaan,”papar Andi.

Demi suksesnya penggalangan dana sumbangan pendidikan tersebut, kami dari komite akan menitipkan sebuah amplop kosong kepada anak-anak kita. Silahkan Bapak / Ibu isi dana seikhlasnya. Dan kami berharap, janganlah Rp 2500, isinya, seperti yang kami temui. Walimurid juga mesti paham dengan keputusan ini, Godang Kayu, Godang singguluang. Karena, komite berupaya membantu siswa kurang mampu dan anak yatim piatu, juga dengan dana tersebut. Silahkan ajukan SKTM.

“Apakah Bapak ibu menganggap ini sebuah pungli ?”, tanya Andi, kembali.

“Tidak, kami bersedia menyumbang demi suksenya PBM anak kami,”jawab perwakilan walimurid.

“kami tidak menganggap ini sebagai pungli, karena nominalnya seikhlas walimurid. Dan kita (walimurid) juga mesti punya hati. Ya, jangan mengisi Rp 2500, lah. Itu terlalu sekali,”tanggap walimurid lain.

Begitu cepat kata mufakat antara pengurus komite dengan walimurid. Hemat kami, dalam waktu 1 jam rapat sudah mencapai kata mufakat. Selanjutnya tanya jawab dan penyampaian usul saran dari walimurid kepada Ketua Komite demi suksesnya PBM.
Menjawab dan menanggapi dinamika kekinian, Ketua Komite kembali paparkan bahwa passing grade SMPN 1 Payakumbuh tidak akan diturunkan.

“tak bisa dielak, penerintah teyapkan zonasi dan kita mesti positif thinking. Dulu nilai terima PPDB terendah 8,8 dalam rayon dan luar rayon 9,3. Itu dulu. Saat ini, tidak demikian. Realitanya, sekitar 90 % siswa adalah warga Nunang Daya Bangun dan Labuah Baru. Itulah zonasi. Agar angka tinggal kelas tidak meningkat, perlu kerjasama unsur terkait ditengah kemajuan zaman. Orangtua dituntut lebih aktif mengawasi anak di rumah.

“Jangan pernah menyebut anak kita, anak nakal. Namun akan luar biasa, jika orangtua yang nakal. Pertumbuhan otak itu bertahap selaras dengan bertambahnya usia. Untuk itu, isilah otak dan dada mereka secara seimbang agar mereka jadi anak yang berguna,”terang Andi yang rela pensiun muda dari ASN Kemenag demi mengabdi sebagai seorang tokoh pendidikan di Payakumbuh dan Bukittinggi.

Dikatakan Andi, Agar SMPN 1 Payakumbuh tinggal nomor urut saja di Payakumbuh, sekolah dan komite mesti mathching (seraso separeso- Minang), yakni bersama kita mendidik anak.

SMPN 1 Payakumbuh sejak dulu terkenal dengan disiplinnya. Guru harus lebih cepat datangnya, dibanding anak didik. Bagi guru yang sering terlambat, kita rekomendasikan ke Diknas,”tegas Andi yang juga Ketua STIH Payakumbuh, ini.

“SMPN 1 Payakumbuh membatasi peserta didik membawa HP. Kita sediakan HP untuk siswa. Bukan hanya siswa, Guru pun dilarang main android di lokal. Kebijakan terbaru, SMPN 1 Payakumbuh punya WAG kelas dan WAG komite. Silahkan sampaikan usul dan saran serta kritikan. Kita siap dikritik. Tapi jangan hanya mengkritik saja. Tampillah sebagai pemberi solusi dan membangun,”pungkas Andi yang dikenal aktif di bidang sosial ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan