oleh

Nil Maizar, dari Lapangan Hijau menuju Senayan

Suarapribumi.co.id – Siapa yang tak kenal Nil Maizar, mantan pelatih Timnas yang telah malang melintang di dunia lapangan hijau mulai dari Semen Padang hingga Pelatih Timnas dan sukses melatih sejumlah club sepakbola nasional. Kini Nil Maizar bertekad menuju senayan demi sebuah asa yang ingin diwujudkannya.

Nil disebut-sebut menjadi penantang terkuat diantara calon legislatif pusat lainnya di Daerah Pemilihan (Dapil) Sumbar 2 yang meliputi 8 Kabupaten Kota di Sumatera Barat. Bagaimana tidak Nil merupakan salah warga asli Luak Limopuluah yang berani bertarung menuju senayan.

Pelatih Sepakbola Ps. Tira kelahiran Payakumbuh tahun 70 itu sebelumnya juga telah bertarung menuju senayan pada Pemilu Tahun 2014 lalu. kini Caleg Partai Nasdem nomor urut 1 ini kembali bertarung dengan trik khusus untuk bisa duduk sebagai anggota DPRI-RI Periode 2019-2024.

Pria yang pernah sekolah di SD N 4 Payakumbuh (kini SD 21 Payakumbuh) kembali bertarung di dapil Sumbar II yang meliputi delapan Kabupaten atau Kota dengan jatah kursi untuk DPR RI sebanyak 6 kursi. Dari total 12 partai politik hanya 6 partai politik saja yang mampu mengantarkan kadernya untuk duduk di Parlemen sebagai seorang legislator.

Nil Maizar tak patah arang dirinya dan tim optimis dan menyerahkan sepenuhnya kepada yang maha menentukan. “Bagi saya dimanapun saya berlabuh, saya yang penting bekerja keras dulu, hasilnya kita serahkan kepada yang kuasa,” ujarnya.

Saat jumpa dengan para awak media di Balai Wartawan Kabupaten Limapuluh Kota dan Payakumbuh, dirinya bersama tim berusaha menjemput suara-suara dari para jurnalis dan menampung semua saran dan kritik untuk arah yang lebih baik kedepannya.

Nil Maizar tampak membumi dengan para awak media, wibawa dan bersahaja merangkul para jurnalis sembari berdiskusi demi kemajuan kampung halamannnya bila kelak ia mendapat amanah di senayan.

Ia menginginkan bibit persepakbola di Payakumbuh kembali bermunculan selayaknya dulu dikenal sebagai lumbung pemain bola berkualitas di Sumbar bahkan Indonesia.

“Dulu ketika zaman saya itu ada lima pemain inti asal Luak Limapuluh berkiprah di tingkat Sumbar dan nasional,” ungkap Nil.

Namun sayangnya kini bibit itu mulai terbenam, sudah tak banyak lagi yang berhasil berkiprah menjadi pemain bola hebat untuk Sumbar dan Nasional.

Nil Maizar juga sempat angkat bicara terkait maraknya isu match fixing atau pengaturan skor di sepakbola Indonesia belakangan ini. Menurutnya pemain yang terlibat dalam match fixing adalah pengkhianat.

Pada kesempatan itu, Nil Maizar mengaku sempat menonton pertandingan babak delapan besar Liga 2 Indonesia saat Aceh United menjamu PS Mojokerto Putra (PSMP). Menurutnya, eksekusi penalti yang dilakukan Krisna Adi Darma disebutnya sesuatu yang salah.

“Secara teoritik penalti yang tidak masuk itu sudah salah. Match fixing itu pengkhianatan,” katanya.

Match fixing kata Nil akan menghancurkan sepakbola Indonesia. Ketika pengurus klub ataupun manajemen sudah ikut bermain, maka masa depan sepak bola Indonesia bakal semakin kelam.

Penulis: Syafri Ario

Komentar

Tinggalkan Balasan