oleh

Kisah Pilu Petugas Pemakaman Jenazah Covid-19 di Limapuluh Kota

Suarapribumi.co.id — Pandemi Covid-19 benar-benar menghancurkan semua sendi-sendi kehidupan, tak hanya masyarakat yang menjerit akibat wabah dari Wuhan ini, pejabat pun terdampak sebagian anggaran direfocusing untuk penanganan Covid. Salah satu yang paling menyedihkan nasibnya adalah petugas pemakaman jenazah Covid-19.

Afrizal S., Ketua Penguburan Covid-19 Kabupaten Limapuluh Kota, menceritakan kisahnya yang memilukan. Disamping berhadapan langsung dengan virus ia juga harus siap menanggung imbas dari umpatan-umpatan sebagian masyarakat yang tak terima keluarganya divonis dan dikebumikan secara protokol Covid-19.

Pria yang akrab disapa Ericho itu mengatakan hampir setiap hari ada saja warga yang dikebumikan dengan protap Covid-19. Keringat dan panas yang luar biasa dibalik seragam astronot yang ia tahan berjam-jam menjadi rutinitasnya setiap hari.

Sebagai leader atau ketua penguburan jenazah Covid tak sekali dua kali ia diburu oleh warga karna marah keluarganya dinyatakan meninggal akibat Covid, meskipun Ericho hanyalah petugas di lapangan yang hanya menjalankan tugas, bukan yang menetapkan positif atau tidaknya warga dari Covid-19.

Selain harus menanggung umpatan warga, ia juga tetaplah sebagai pegawai biasa yang menerima upah ukuran standar di daerah yang APBD kecil tersebut. Tak sebanding dengan beban yang ia tanggung.

Ia bahkan termasuk orang yang paling beresiko tertular virus Covid-19 karna langsung berhadapan dengan mayat-mayat yang terkonfirmasi positif Covid-19. Meski menggunakan APD lengkap, kehatian-hatian tingkat tinggi tetap dijaganya agar tetap terhindar dari Covid.

Hingga saat ini dibalik letih dan pilunya itu ia tak pernah menerima reward dari kepala daerah, Bupati Safaruddin Dt. Bandaro Rajo, meski Ericho menjalankan tugas pemerintah langsung dibawah BPBD yang dipimpin langsung oleh Joni Amir.

Tanpa mengenal jam kantor bekerja 24 jam, ia dituntut harus siap kapan pun siang atau pun malam. “Petugas Covid kabupaten yang menelpon saya tidak pernah memikirkan waktu, ya harus siap 24 jam siang maupun malam,” ujar Ericho.

Tak habis disitu, disela-sela kesibukannya sebagai anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) ia pun sering ditegur oleh atasan langsung, Kasi Kedaruratan Logistik karna disaat ada bencana ia harus meninggalkan pekerjaan sebagai TRC dan lansung berangkat ke lokasi penguburan Covid sesuai perintah dari tim Dinkes kabupaten yang dipimpin langsung oleh dr.Edison.

Ericho menghela nafas, ia berharap Pandemi ini segera berakhir, ia mengaku benar-benar merasakan penderitaan yang baru dan tak bisa dihindari akibat Covid tersebut.

Penulis: Syafri Ario, S. Hum

Komentar

Tinggalkan Balasan